Seorang muslim dan mukmin adalah manusia yang telah berucap dua kalimah syahadat dan mengimani bahwa Allah itu Ada, Dia pula yang menciptakan kita, Dia yang memelihara kita dan Dia pula yang ada di atas (bukan diatas atap) segalanya. Mukmin juga adalah yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad dan syari`at yang diturunkan kepada beliau serta meyakini bahwa ajaran Islam adalah yang terbaik. Karenanya salahlah seorang yang ngakunya mukmin tapi masih mencari kesenangan yang melanggar batas batas Syari`at apalagi mengambil dari agama lain. “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi) Yang terbaik adalah jika mereka mendengar seruan Islam atas sesuatu yang haram maka ia akan meninggalkannya walau ia menyenanginya. Karena ia yakin Allah lebih mengetahui segala sesuatu dibanding kan dirinya : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” (QS. Al Baqarah : 216) Surga diliputi dengan apa-apa yang dibenci (HR Muslim,Turmudzi, Ahmad dan Darimi) Merayakan hari raya orang lain, ikut serta, menerima dan memberi kado adalah hal yang terlarang bagi seorang mukmin, Ibnu Qayim Al Jauziyah berpendapat : ‘Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Lalu bagaimana dengan Valentine ? Baiklah, jika ingin menetapkan hukum suatu perkara tentu kita harus melihat perkara itu sendiri. Kita lihat dulu latar belakang nya yang telah kita ketahui ada beberapa pendapat : Yang pertama adalah perayaan mengenang wafatnya St. Valentine. Siapakah dia ini ? Namanya St Valentine seseorang yang meninggal pada tanggal 14 Februari dihukum gantung oleh Kaisar Caudius II, singkatan St. Yang terletak sebelum nama Valentine adalah singkatan dari Saint atau Indonesia nya disebut sebagai SANTO, artinya orang suci penyebar agama Nasrani (Kristen), sama seperti penggunaan nama Santo Yohannes. Bolehkah kita merayakan wafatnya Isa Al Masih yang diperingati saudara saudara kita ummat nasrani ? tentu saja tidak boleh pada hal Isa AS kita akui sebagai Nabi. Nah, bagaimana kita juga akan merayakan kematian seseorang yang menyembah dan menyebarkan agama penyembah Isa AS, padahal kita tahu menyembah manusia itu syirik dan HARAM hukum nya? Sungguh dzalim lah kita pada diri kita sendiri jika kita berlaku seperti itu padahal Islam telah datang pada kita. “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkari nya” (QS. Adz Dzariyat : 21) Yang Kedua, Valentine adalah sebuah kata dari bahasa Latin yang berarti yang Maha kuasa, yang Maha Perkasa atau dengan kata lain kata ini ditujukan kepada Tuhan. Lalu apakah manusia itu sama dengan Allah ? Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Nya (yang patut disembah)? (QS. Maryam : 65) Hingga kita meminta seseorang untuk menjadi Tuhan kita dengan mengucapkan “be My Valentine” (jika diartikan dalam bahasa aslinya “jadilah Tuhan ku”) sama saja kita dengan para penyembah berhala ...dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu... (Al Ahzab:33) Saya kira dari latar belakang saja cukup sudah nyata bagi kita, bahwa Merayakan Valentine haram hukumnya secara dzat (lidzatihi) sama seperti marayakan Natal, mengucapkannya, dan bergembira atas kedatangannya. Karena dibalik keinginan dan kegembiraan kita merayakan Valentine adalah ikut bergembiranya kita dengan tersebarnya agama lain selain Islam. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu... (HR. Abu Dawud) Lalu kita lihat konsep perayaan nya, lihat lah teman teman mu sedang bersiap siap merayakan Valentine (dan kewajiban bagimu untuk menyampaikan ilmu yang kau punyai, agar ia tak tersesat lebih jauh). Pakaian Pink, sepatu pink, lalu tengah mengumpulkan uang buat beli kado atau setidaknya beli coklat dan mawar (buat cowok nih). Mari kita kaji, (walau kita tahu merayakan dan ikut bergembira saja sudah haram hukumnya) Bagi cewek : apa yang kamu inginkan saat merayakan Valentine ? jawab saja dengan jujur : berbahagia. Lalu bagaimana caranya : mendapatkan pacar, jalan bareng, kasih kado. Itu saja. Lalu apa yang akan benar benar kamu dapatkan ? jujur saja saya bilang TIDAK ADA!!! Malah rugi, pertama kamu kasih hadiah tapi belum tentu yang dikasih mau. Kedua kamu kasih hadiah mahal belum tentu kamu dikasih dengan yang sama, ketiga hati hati lah karena cowok tak akan pernah puas hanya dengan pegangan tangan, rangkulan, peluk pinggang saat di atas motor, ada yang akan dicarinya selain (dan lebih dari) itu. Seperti hujan yang tanaman-tanaman nya mengagumkan petani, kemudian tanaman itu menjadi kuning lalu menjadi hancur. (Al Hadid : 20) Lagi pula jangan lah melakukan sesuatu yang sia sia, cinta bukan dengan kado, jalan apalagi ciuman dan pelukan, tapi cinta yang hakiki adalah cinta yang didasari hanya ingin mencari dan mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan yang dicintai, bagaimana caranya ? pikir sendiri. Yang demikian itu, supaya mereka lebih mudah untuk dikenali karena itu mereka tidak diganggu... (QS,Al Ahzaab :59) Girl`s jangan engkau korbankan auratmu hanya karena ingin tampil modis, gaul dan Funky, : ...dan hendaklah mereka menurunkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka... (QS. An Nur : 31) Se alim apapun manusia jika sudah ditempatkan dalam kondisi hanya berdua, saling suka lagi maka renungkan ayat berikut : “Maka Setan membisikan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampak kan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu Auratnya; (Al A`raf[7]:20) Buat cowok : keinginan itu akan selalu ada, tapi jika kamu punya adik perempuan inginkah kamu jika dia juga mengalami hal yang sama, inginkah kamu ibumu diperlakukan dengan cara seperti itu, inginkah kamu anak perempuan mu nanti di perlakukan seperti yang kamu inginkan dari pacarmu itu ? tentu jawabmu tidak, maka pacarmu adalah adik, anak dan ibu mu juga janganlah engkau ingin menodainya, Jangan ciuman, ingat ibu dan adik mu Jangan Pelukan, Ingat ibumu dan adik mu Jangan yang lain – lain tunggu saja pasti nanti Allah akan memberikan yang terbaik bagimu. Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba Nya (QS. Asy Syura`: 19) Jagalah diri kalian dari yang diharamkan, niscaya wanita (istri) kalian juga akan menjaga diri mereka. (HR.Thabrani dan Hakim) Ingatlah, jika ingin mendapat yang terbaik mengapa harus lewat jalan yang jelas diharamkan, mengapa harus menunggu Valentine ? kuncinya bukan ikut atau tidak dalam merayakan Valentine (yah, tapi hukumnya tetap saja sama jika ikut) tapi bagaimana kamu memperbaiki diri, begitu juga pasangan mu akan memperbaiki diri nya. Dan Insya Allah janji Allah itu pasti datang nya: Ingin mendapatkan yang terbaik ? Bukan dengan cara yang buruk dengan melanggar Syari`at Islam tapi mulailah memperbaiki diri karena janji Allah : Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik-baik untuk wanita yang baik-baik (pula). (QS.An Nur24:26) Nah sekarang tinggal pilih apakah merayakan Valentine atau tidak, Cuma tolong ingat mana yang bisa menjerumuskan ke neraka dan mana yang tidak. (Agus Kurniawan @Roemah Hati To IRMAT) Salam. Wallahualam (Gus.)
berikut ini tulisan yang saya ambil dari CyberMq.Com, sebagai bahan acuan dalam melihat dan memandang berbagai ajaran - ajaran yang lebih mementingkan "isi" dibandingkan kulit, padahal kulit, isi dan ruh adalah satu kesatuan utuh. selamat membaca
Syekh Abd Al-Hamid Abulung
Oleh : Dalam sejarah pemikiran keagamaan di Kalimantan Selatan, pada abad ke-18 terdapat tiga tokoh yang terkenal, yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Syekh'Abd Al-Hamid Abulung, dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari (Zafry Zamzam, 1979). Dua yang pertama, makamnya terdapat di daerah Martapura, sementara yang terakhir terdapat di daerah Hulu Sungai Utara (Amuntai).
Dibandingkan dengan kubah (makam) Syekh Arsyad Al-Banjari (1707-1812 M) yang di tanah seribu sungai ini lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, kubah Syekh 'Abd Al -Hamid Abulung, yang lebih dikenal dengan sebutan Datu Abulung, tentu saja kurang terkenal. Ini disebabkan, selain karena tidak memiliki karya tulis, 'Abd Al-Hamid juga bisa dikatakan senasib dengan Syekh Siti Jenar di jawa yang meninggal karena dibunuh para wali akibat perselisihan mengenai pandangan keagamaan dalam tasawuf.
Baik Syek Siti Jenar maupun Syekh 'Abd Al-Hamid Abulung, keduanya sama-sama mengajarkan satu cabang filsafat yang kini kurang populer, yaitu metafisika. Pemikiran mereka sama dengan pemikiran Henry Bergson pada masa modern, Lao Tse dan Krishnamurti. di Timur, Paraselsus dan Plato serta Plotinus di masa Yunani, serta beberapa filusuf awal dalam pemikiran Islam.
Meskipun demikian, nasib Syekh 'Abd Al-Hamid agaknya lebih beruntung ketimbang Siti Jenar, sebab ia nyaris tidak memiliki citra yang pejoratif. Setidaknya ini tersirat dalam kenyataan bahwa dalam tradisi mamangan (bacaan semacam doa) Banjar, namanya juga sering disebut dan disandingkan dengan Syekh Arsyad Al-Banjari. Hal ini membuktikan, meskipun ajarannya dianggap menyimpang oleh jumhur ulama Banjar, namun di mata masyarakat Syekh 'Abd Al-Hamid tetap dianggap wali.
Histrogafi Syekh 'Abd Al-Hamid
Sukar melacak kapan tepatnya saat Syekh 'Abd Al-Hamid dilahirkan. Seperti halnya Syekh Siti Jenar, kehidupan Syekh 'Abd Al-Hamid pun secara umum sukar dilacak datanya. Namun demikian, yang pasti ia menyaksikan Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Tamhid Allah, yang berkuasa pada 1778-1808 M.
Di masa kekuasaan Sultan Tamhid Allah, kondisi politik Kesultanan Banjar mulai tidak kondusif. Perebutan kekuasaan antar pembesar kesultanan seringkali terjadi. Hal inilah yang mendorong Sultan Tamhid Allah bekerjasama dengan Belanda, untuk mempertahankan kekuasaannya. Sebagai kompensasinya, Sultan Tamhid Allah harus menyerahkan sebagian wilayah kekuasaannya kepada Belanda. Hal ini terjadi pada 1787 M (Kutoyo dan Sri Sutjianingsih, 1977).
Meski kondisi politik Kesultanan Banjar tidak lagi kondusif, Banjar tetap menjadi pusat perdagangan yang paling strategis di wilayah Kalimantan. Kekayaan alamnya yang melimpah, seperti intan, emas, lilin, damar dan sarang burung walet yang merupakan komoditas internasional paling laris, menyebabkan Banjar tetap menjadi incaran para pedagang dari jawa, Makassar, Portugis, Inggris, dan Belanda. Ini artinya, Kesultanan Banjar yang terletak di pesisir pantai selatan Kalimantan merupakan wilayah terbuka, baik untuk kepentingan dagang, politik, maupun penyebaran agama.
Walaupun Kesultanan Banjar dikenal sangat terbuka bagi masyarakat pendatang dari berbagai penjuru dunia, yang berbeda etnik maupun agama, para pembesar kesultanan dikenal sangat taat memeluk Islam. Untuk menunjang spiritualnya itu, para penguasa Banjar mengangkat para ulama menjadi guru spiritualnya, sekaligus menjadi pejabat-pejabat kesultanan.
Konon Syekh 'Abd Al-Hamid, dalam salah satu sumber, pernah mendapatkan perlakuan istimewa oleh para Kesultanan Banjar. Dalam penelitian H.A. Rasyidah disebut Syekh 'Abd Al-Hamid pernah menjabat posisi strategis di Kesultanan Banjar tepatnya sebagai mufti (Rasyidah: 1990). Tapi tampaknya, hasil penelitian H.A. Rasyidah kurang bisa diterima oleh kalangan sejarawan. Pasalnya, seperti diutarakan Zafry Zamzam Steenbrink, dan Azyumardi Azra, kedatangan Syekh 'Abd Al-Hamid ke Kalimantan Selatan, adalah beberapa tahun setelah Arsyad Al- Banjari kembali dari Arabia. Padahal, Arsyad Al-Banjari langsung diangkat menjadi mufti. Pertanyaannya, kalau Arsyad Al-Banjari diangkat mufti sekembalinya dari Arabia, lantas kapan 'Abd Al-Hamid berkesempatan menjadi mufti?
Terlepas kontroversi jelas 'Abd Al-Hamid pernah leluasa mengajarkan pandangan tasawuf wahdah al-wujud (wujudiyyah) Ibn 'Arabi' (1165-1240). Pandangan tasawuf wahdah al-wujud yang dianut Syekh 'Abd Al-Hamid ini dipengaruhi aliran ittihad-nya Abu Yazid Al-Busthami (w. 873 H) dan hulul-nya Al-Hallaj (w. 923 H) yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syams Al-Din Al-Sumatrani serta Syekh Siti Jenar dari jawa.
Perlu dicatat disini, agaknya puritanisme ajaran tasawuf Hamid ini banyak dipengaruhi kondisi sosial Kesultanan Banjar yang sangat terbuka bagi siapapun yang ingin "berinvestasi," termasuk aliran agama di Banjar. Keterbukaan yang dikondisikan inilah, yang memudahkan Syekh 'Abd Al-Hamid mempelajari tulisan-tulisan para penganut tasawuf falsafi tersebut.
Kesempatan Syekh 'Abd Al-Hamid mengembangkan ajaran wujudiyyah mulai mendapatkan sandungan ketika tersiar sampai ke telinga Sultan Tamhid Allah dan Syekh Arsyad Al-Banjari bahwa ajaran yang dibawanya dianggap meresahkan masyarakat Dilaporkan, 'Abd Al-Hamid mengajarkan orang-orang, bahwa "tidak ada wujud kecuali Allah. Tidak ada 'Abd Al-Hamid kecuali Allah; Dialah aku dan akulah Dia. Dan sangat kebetulan, Syekh Muhammad Arsyad, sebagai penganut ajaran Syekh b. 'Abd Al-Karim Al-Sammani Al-Madani guru dari tokoh-tokoh tarekat Sammaniyyah Nusantara memang tidak sepakat dengan Wujudiyyah-nya Syekh 'Abd Al-Hamid dan bahkan menganggapnya musyrik.
Akibat dari pernikirannya inilah, Syekh 'Abd Al-Hamid Abulung hidupnya di tangan para algojo Kesultanan Banjar. la dihukum mati oleh keputusan Sultan Tamhid Allah, atas Pertimbangan Syekh Muhammad Arsyad yang waktu itu menjabat sebagai mufti besar (Alfani Daud, 1997). Peristiwa ini, hingga kini belum bisa ketahui secara pasti, kecuali hanya dugaan terjadi pada awak abad ke-18, dimana eksekusinya dilakukan di Abulung, yang kini termasuk wilayah kampung Sungai Batang, Martapura, Kalimantan Selatan. Makamnya sendiri sempat tidak diketahui oleh masyarakat, seperti dalam kasus kematian Syekh Siti Jenar, yang hingga kini makamnya masih menjadi misteri.
Baru belakangan makamnya diketahui terletak kira-kira dua atau tiga kilometer di sebelah hilir Dalam Pagar -kampung yang dikenal sebagai tempat menuntut ilmu keagamaan di Kalimantan Selatan (A. Steenbrink, 1984), dalam kondisi tidak berpagar. Kuburan ini ditemukan atas petunjuk tuan guru (kiai) Haji Muhammad Nur, seorang ulama dan guru tarekat di Takisung (Kabupaten Tanah Laut), yang kemudian dibangunkan kubah-nya. Tuan guru Haji Muhammad Nur sendiri mengaku sebagai keturunan langsung dari Syekh 'Abd Al-Hamid.
Hingga kini, makam Syekh'Abd Al-Hamid masih banyak dikunjungi umat Islam karena dianggap memiliki karamat. Di antara karamat-nya yang nampak adalah makamnya, yang berada di pinggir sungai, tak bisa dihanyutkan air. Padahal makam tersebut sering tergerus air. Namun ketika makam itu telah turun, secara ajaib makam itu naik lagi dan tanah pun menyangga makam itu lagi.
Pemikiran Syekh 'Abd Al-Hamid
Berbeda dengan Syekh Arsyad yang terkenal karena magnum opus-nya, Sabilal-Muhtadin -buku fiqh berbahasa Melayu- yang menentang doktrin wujudiyyah mulhid, Syekh 'Abd Al-Hamid dinilai kering karya. Karena hingga kini, hanya ada beberapa fragmen yang menyiratkan pandangan Syekh 'Abd Al-Hamid mengenai tasawuf yang bisa dilacak, dan itupun sangat terbatas. Di Banjar sendiri sekarang ada sebuah karya yang disinyalir kepunyaan Syekh 'Abd Al-Hamid. Naskah itu berisi tentang pandangan tasawuf wujudiyyah mulhid, berupa pembahasan mengenai "Asal Kejadian Nur Muhammad". Namun, tidak diketahui nama ulama Banjar yang menulis karya tersebut.
Sebagai penganut paham tasawuf falsafi, Syekh'Abd Al-Hamid menyindir bahwa ilmu keagamaan yang diajarkan selama ini hanyalah kulit "syariat," belum sampai kepada isi "hakikat". Selain itu salah satu ujarannya yang cukup dikenal adalah berupa konsep: "Tiada maujud, melainkan hanya Dia, tiada wujud yang lainnya. Tiada aku, melainkan Dia dan aku adalah Dia...". (Zamzam, 1979). Doktrin tasawuf ittibad dan hulul yang seringkali mengumandangkan pandangan tentang kesatuan makhluk dan Tuhan tersebut tentu saja menantang otontas istana dan ulama secara telak.
Pasalnya, manakala istana membutuhkan agar rakyat mengakui otoritasnya yang tinggi dan terhubung dengan ilahi, pandangan yang menyatakan bahwa yang ilahi justru terdapat dalam segala makhluknya tersebut jelas merupakan pandangan yang subversif. Oleh karena itu, ketika Syekh 'Abd Al-Hamid mengajarkan ajaran ini pada masyarakat umum jelas kalangan istana sangat khawatir. Atas dasar itulah Sultan Tahmid Allah yang memerintah Kesultanan Banjar masa itu memanggil Syekh Abd Al-Hamid ke istana.
Kemudian, diutuslah para punggawa untuk menjemputnya. Ketika para punggawa telah sampai di depan rumah Syekh 'Abd Al-Hamid, mereka menyeru bahwa Sultan memang agar ia segera pergi ke istana untuk menghadap. Di luar dugaan c ari rumah Syekh 'Abd Al-Hamid suara: "Di sini tidak ada 'Abd Al-Hamid yang ada hanyalah Allah (Tuhan)." Para punggawa yang tak pernah menghadapi hal ini akhirnya kembali ke istana untuk melapor. Mereka lalu disuruh ke untuk menjemput (si) Allah/ 'Abd Al-Hamid itu. Ketika di depan rumah Syekh 'Abd Al-Hamid, para pun menyeru bahwa (si) Allah diminta datang ke istana. Dari dalam keluar seruan, "Allah tidak bisa diperintah. Dan, di sini tidak ada Allah
berikut ini tulisan yang saya ambil dari CyberMq.Com, sebagai bahan acuan dalam melihat dan memandang berbagai ajaran - ajaran yang lebih mementingkan "isi" dibandingkan kulit, padahal kulit, isi dan ruh adalah satu kesatuan utuh. selamat membaca
Syekh Abd Al-Hamid Abulung
Oleh : Dalam sejarah pemikiran keagamaan di Kalimantan Selatan, pada abad ke-18 terdapat tiga tokoh yang terkenal, yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Syekh'Abd Al-Hamid Abulung, dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari (Zafry Zamzam, 1979). Dua yang pertama, makamnya terdapat di daerah Martapura, sementara yang terakhir terdapat di daerah Hulu Sungai Utara (Amuntai).
Dibandingkan dengan kubah (makam) Syekh Arsyad Al-Banjari (1707-1812 M) yang di tanah seribu sungai ini lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, kubah Syekh 'Abd Al -Hamid Abulung, yang lebih dikenal dengan sebutan Datu Abulung, tentu saja kurang terkenal. Ini disebabkan, selain karena tidak memiliki karya tulis, 'Abd Al-Hamid juga bisa dikatakan senasib dengan Syekh Siti Jenar di jawa yang meninggal karena dibunuh para wali akibat perselisihan mengenai pandangan keagamaan dalam tasawuf.
Baik Syek Siti Jenar maupun Syekh 'Abd Al-Hamid Abulung, keduanya sama-sama mengajarkan satu cabang filsafat yang kini kurang populer, yaitu metafisika. Pemikiran mereka sama dengan pemikiran Henry Bergson pada masa modern, Lao Tse dan Krishnamurti. di Timur, Paraselsus dan Plato serta Plotinus di masa Yunani, serta beberapa filusuf awal dalam pemikiran Islam.
Meskipun demikian, nasib Syekh 'Abd Al-Hamid agaknya lebih beruntung ketimbang Siti Jenar, sebab ia nyaris tidak memiliki citra yang pejoratif. Setidaknya ini tersirat dalam kenyataan bahwa dalam tradisi mamangan (bacaan semacam doa) Banjar, namanya juga sering disebut dan disandingkan dengan Syekh Arsyad Al-Banjari. Hal ini membuktikan, meskipun ajarannya dianggap menyimpang oleh jumhur ulama Banjar, namun di mata masyarakat Syekh 'Abd Al-Hamid tetap dianggap wali.
Histrogafi Syekh 'Abd Al-Hamid
Sukar melacak kapan tepatnya saat Syekh 'Abd Al-Hamid dilahirkan. Seperti halnya Syekh Siti Jenar, kehidupan Syekh 'Abd Al-Hamid pun secara umum sukar dilacak datanya. Namun demikian, yang pasti ia menyaksikan Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Tamhid Allah, yang berkuasa pada 1778-1808 M.
Di masa kekuasaan Sultan Tamhid Allah, kondisi politik Kesultanan Banjar mulai tidak kondusif. Perebutan kekuasaan antar pembesar kesultanan seringkali terjadi. Hal inilah yang mendorong Sultan Tamhid Allah bekerjasama dengan Belanda, untuk mempertahankan kekuasaannya. Sebagai kompensasinya, Sultan Tamhid Allah harus menyerahkan sebagian wilayah kekuasaannya kepada Belanda. Hal ini terjadi pada 1787 M (Kutoyo dan Sri Sutjianingsih, 1977).
Meski kondisi politik Kesultanan Banjar tidak lagi kondusif, Banjar tetap menjadi pusat perdagangan yang paling strategis di wilayah Kalimantan. Kekayaan alamnya yang melimpah, seperti intan, emas, lilin, damar dan sarang burung walet yang merupakan komoditas internasional paling laris, menyebabkan Banjar tetap menjadi incaran para pedagang dari jawa, Makassar, Portugis, Inggris, dan Belanda. Ini artinya, Kesultanan Banjar yang terletak di pesisir pantai selatan Kalimantan merupakan wilayah terbuka, baik untuk kepentingan dagang, politik, maupun penyebaran agama.
Walaupun Kesultanan Banjar dikenal sangat terbuka bagi masyarakat pendatang dari berbagai penjuru dunia, yang berbeda etnik maupun agama, para pembesar kesultanan dikenal sangat taat memeluk Islam. Untuk menunjang spiritualnya itu, para penguasa Banjar mengangkat para ulama menjadi guru spiritualnya, sekaligus menjadi pejabat-pejabat kesultanan.
Konon Syekh 'Abd Al-Hamid, dalam salah satu sumber, pernah mendapatkan perlakuan istimewa oleh para Kesultanan Banjar. Dalam penelitian H.A. Rasyidah disebut Syekh 'Abd Al-Hamid pernah menjabat posisi strategis di Kesultanan Banjar tepatnya sebagai mufti (Rasyidah: 1990). Tapi tampaknya, hasil penelitian H.A. Rasyidah kurang bisa diterima oleh kalangan sejarawan. Pasalnya, seperti diutarakan Zafry Zamzam Steenbrink, dan Azyumardi Azra, kedatangan Syekh 'Abd Al-Hamid ke Kalimantan Selatan, adalah beberapa tahun setelah Arsyad Al- Banjari kembali dari Arabia. Padahal, Arsyad Al-Banjari langsung diangkat menjadi mufti. Pertanyaannya, kalau Arsyad Al-Banjari diangkat mufti sekembalinya dari Arabia, lantas kapan 'Abd Al-Hamid berkesempatan menjadi mufti?
Terlepas kontroversi jelas 'Abd Al-Hamid pernah leluasa mengajarkan pandangan tasawuf wahdah al-wujud (wujudiyyah) Ibn 'Arabi' (1165-1240). Pandangan tasawuf wahdah al-wujud yang dianut Syekh 'Abd Al-Hamid ini dipengaruhi aliran ittihad-nya Abu Yazid Al-Busthami (w. 873 H) dan hulul-nya Al-Hallaj (w. 923 H) yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syams Al-Din Al-Sumatrani serta Syekh Siti Jenar dari jawa.
Perlu dicatat disini, agaknya puritanisme ajaran tasawuf Hamid ini banyak dipengaruhi kondisi sosial Kesultanan Banjar yang sangat terbuka bagi siapapun yang ingin "berinvestasi," termasuk aliran agama di Banjar. Keterbukaan yang dikondisikan inilah, yang memudahkan Syekh 'Abd Al-Hamid mempelajari tulisan-tulisan para penganut tasawuf falsafi tersebut.
Kesempatan Syekh 'Abd Al-Hamid mengembangkan ajaran wujudiyyah mulai mendapatkan sandungan ketika tersiar sampai ke telinga Sultan Tamhid Allah dan Syekh Arsyad Al-Banjari bahwa ajaran yang dibawanya dianggap meresahkan masyarakat Dilaporkan, 'Abd Al-Hamid mengajarkan orang-orang, bahwa "tidak ada wujud kecuali Allah. Tidak ada 'Abd Al-Hamid kecuali Allah; Dialah aku dan akulah Dia. Dan sangat kebetulan, Syekh Muhammad Arsyad, sebagai penganut ajaran Syekh b. 'Abd Al-Karim Al-Sammani Al-Madani guru dari tokoh-tokoh tarekat Sammaniyyah Nusantara memang tidak sepakat dengan Wujudiyyah-nya Syekh 'Abd Al-Hamid dan bahkan menganggapnya musyrik.
Akibat dari pernikirannya inilah, Syekh 'Abd Al-Hamid Abulung hidupnya di tangan para algojo Kesultanan Banjar. la dihukum mati oleh keputusan Sultan Tamhid Allah, atas Pertimbangan Syekh Muhammad Arsyad yang waktu itu menjabat sebagai mufti besar (Alfani Daud, 1997). Peristiwa ini, hingga kini belum bisa ketahui secara pasti, kecuali hanya dugaan terjadi pada awak abad ke-18, dimana eksekusinya dilakukan di Abulung, yang kini termasuk wilayah kampung Sungai Batang, Martapura, Kalimantan Selatan. Makamnya sendiri sempat tidak diketahui oleh masyarakat, seperti dalam kasus kematian Syekh Siti Jenar, yang hingga kini makamnya masih menjadi misteri.
Baru belakangan makamnya diketahui terletak kira-kira dua atau tiga kilometer di sebelah hilir Dalam Pagar -kampung yang dikenal sebagai tempat menuntut ilmu keagamaan di Kalimantan Selatan (A. Steenbrink, 1984), dalam kondisi tidak berpagar. Kuburan ini ditemukan atas petunjuk tuan guru (kiai) Haji Muhammad Nur, seorang ulama dan guru tarekat di Takisung (Kabupaten Tanah Laut), yang kemudian dibangunkan kubah-nya. Tuan guru Haji Muhammad Nur sendiri mengaku sebagai keturunan langsung dari Syekh 'Abd Al-Hamid.
Hingga kini, makam Syekh'Abd Al-Hamid masih banyak dikunjungi umat Islam karena dianggap memiliki karamat. Di antara karamat-nya yang nampak adalah makamnya, yang berada di pinggir sungai, tak bisa dihanyutkan air. Padahal makam tersebut sering tergerus air. Namun ketika makam itu telah turun, secara ajaib makam itu naik lagi dan tanah pun menyangga makam itu lagi.
Pemikiran Syekh 'Abd Al-Hamid
Berbeda dengan Syekh Arsyad yang terkenal karena magnum opus-nya, Sabilal-Muhtadin -buku fiqh berbahasa Melayu- yang menentang doktrin wujudiyyah mulhid, Syekh 'Abd Al-Hamid dinilai kering karya. Karena hingga kini, hanya ada beberapa fragmen yang menyiratkan pandangan Syekh 'Abd Al-Hamid mengenai tasawuf yang bisa dilacak, dan itupun sangat terbatas. Di Banjar sendiri sekarang ada sebuah karya yang disinyalir kepunyaan Syekh 'Abd Al-Hamid. Naskah itu berisi tentang pandangan tasawuf wujudiyyah mulhid, berupa pembahasan mengenai "Asal Kejadian Nur Muhammad". Namun, tidak diketahui nama ulama Banjar yang menulis karya tersebut.
Sebagai penganut paham tasawuf falsafi, Syekh'Abd Al-Hamid menyindir bahwa ilmu keagamaan yang diajarkan selama ini hanyalah kulit "syariat," belum sampai kepada isi "hakikat". Selain itu salah satu ujarannya yang cukup dikenal adalah berupa konsep: "Tiada maujud, melainkan hanya Dia, tiada wujud yang lainnya. Tiada aku, melainkan Dia dan aku adalah Dia...". (Zamzam, 1979). Doktrin tasawuf ittibad dan hulul yang seringkali mengumandangkan pandangan tentang kesatuan makhluk dan Tuhan tersebut tentu saja menantang otontas istana dan ulama secara telak.
Pasalnya, manakala istana membutuhkan agar rakyat mengakui otoritasnya yang tinggi dan terhubung dengan ilahi, pandangan yang menyatakan bahwa yang ilahi justru terdapat dalam segala makhluknya tersebut jelas merupakan pandangan yang subversif. Oleh karena itu, ketika Syekh 'Abd Al-Hamid mengajarkan ajaran ini pada masyarakat umum jelas kalangan istana sangat khawatir. Atas dasar itulah Sultan Tahmid Allah yang memerintah Kesultanan Banjar masa itu memanggil Syekh Abd Al-Hamid ke istana.
Kemudian, diutuslah para punggawa untuk menjemputnya. Ketika para punggawa telah sampai di depan rumah Syekh 'Abd Al-Hamid, mereka menyeru bahwa Sultan memang agar ia segera pergi ke istana untuk menghadap. Di luar dugaan c ari rumah Syekh 'Abd Al-Hamid suara: "Di sini tidak ada 'Abd Al-Hamid yang ada hanyalah Allah (Tuhan)." Para punggawa yang tak pernah menghadapi hal ini akhirnya kembali ke istana untuk melapor. Mereka lalu disuruh ke untuk menjemput (si) Allah/ 'Abd Al-Hamid itu. Ketika di depan rumah Syekh 'Abd Al-Hamid, para pun menyeru bahwa (si) Allah diminta datang ke istana. Dari dalam keluar seruan, "Allah tidak bisa diperintah. Dan, di sini tidak ada Allah
Ditulis secara sederhana namun mengena, tulisan – tulisan berikut berisikan berbagai permasalahan perempuan dalam Islam, ditulis dengan metode dialogis dan ringan namun tetap berbobot sebagai uraian dari pengalaman pribadi penulis sebagai Konselor Islam yang banyak mendapat Curhat dari Akhwat – akhwat mengenai permasalahan yang terjadi antara diri, keluarga dan teman – teman disekelilingnya. Pada Bagian awal kita akan membaca mengenai kepribadian seorang muslimah, 1. Saudariku, Lihatlah Pintu – Pintu Itu 2. Aku Ingin Bertanya Pada mu ... 3. Dban Bidadaripun Cemburu selanjutnya kita akan mendapati Cinta dan berbagai permasalahannya, 4. Cinta itu Fitrah tapi.... 5. Lelaki itu Bernama : SERIGALA!!! 6. Ibu.... Lalu akan ada bagian yang membahas TazkiyatuNafs,proses pembersihan diri 7. Dan Hanya Kepada Allah Kembalimu 8. Seperti Ladang – Ladang Yang Hancur 9. Ah, Aku Belum Siap! Berikutnya mengenai Muraqabah, pendekatan diri pada Allah 10. Saudariku, Allah Melihatmu... 11. Jika Engkau mencintai Allah Kemudian sebagai bagian akhir akan menguraikan tentang keputus asa an, sebagai hiburan bagi yang hatinya sedang terluka. 12. Jangan Berputus Asa
(Silahkan baca tulisan amie manez berikut, her name is Siti Aminah) cerdas gak berarti kuper” sesuai dengan tema diatas; bahwa orang yang cerdas gak berarti Kuper (Koerang Pergaoelan) khan? Ada orang yang cerdass tapi tetap gaul abis, orang tersebut tau jalannya dunia. Dengan membaca koran atau pun menonton TV. Nah disini saya akan memberikan sedikit tips dalam gaul yang OK dengan belajar...Jalan Truz!!! Belajar diimbangi dengan senang – senang Emang sih belajar itu penting, tapi gak mesti jadi Nerd khan ? segala sesuatu dalam hidup itu harus balance. Masing – masing orang mempunyai kesenangan untuk dirinya sendiri. bentuknya bisa beragam mulai dari hobbi ataupun aktivitas kecil lainnya. Misalnya sebelum belajar, biar semangat dengerin musik dulu ataupun belajar sambil dengerin musik. Bersenang – senang sendiri Vs Bergaul Bersenag – senang emang menyenangkan. Masalahnya kalo` kita senagn – senangnya sendiri apakah akan tetap menyenangkan? Kalo` udah biasa sich ga` ada macalah...iya khan? Nah loh, kegiatan atau aktivitas apa aja sich yang bisa dilakukan rame – rame bareng teman ? banyak kok! Misalnya ngejalanin hobbi bareng, main musik ataupun yang lainnya. Bayangin rasanya jalan – jalan sendiri ma jalan rame – rame bareng teman kamu, pasti rasanya Beda banget! Having Friends is Refreshing;manfaat teman Kamu pernah berfikir gak apa sih manfaatnya ada teman ? sekarang bayangin aja kalo` gak ada teman tuh pasti hidup kurang berwarna. Teman itu bisa buat berbagi baik dalam senag maupun susah (teman yang baik loh). Ada juga loh teman yang hanya mau berteman disaatkita senang aja !(yang begini nih yang perlu dihindarinJedt). Nah, Teman sangat berguna bagi kitasaat kita lagi suntuk belajar atau lagi butuh hiburan. Tempat Gaul Yang Ochee... Ini dia yang mesti kamu ketahui. Tempat gaul yang oke itu yang bagaimana sih...??sebenarnya relativ sich. But, tempat yang enak buat gaul itu adalah tempat yang bisa membuat kamu nyaman dan bisa berinteraksi dengan teman – teman kamu dengan leluasa...So, tempatnya bisa dimana saja.bener banget gak tuh... Learn to say NO ; ASeRTiViTAS!!! Hai Guy`s tau gak arti asertif itu ? asertif tuh berarti berani mengatakan atau melakukan sesuatu yang menurut kita perlu dan benar untuk dikatakan atau dilakukan. Misalnya umuran anak SMA itu, ngerokok kita anggap gak benar karena sama aja ngebakar do..it, iya khan? Malahan ada yang bilang, kalo` gak ngerokok itu gak Gentlemen banget! Itu sich salah besar, malahan kalo` emang dia genteman dia dapat menguasai dirinya agar gak ngerokok. Dalam rokok aja banyak banget zat kimianya, HATI – HATI loh!!! Any way Guy`s!!!kalian khan udah ngebaca yang namanya gaul yang gak ninggalin belajar. Kita boleh gaul tapi harus yang postif gak usah Negatif. Dalam bergaulpun kita banyak mendapatkan wawasan yang sebenarnya kita gak tau khan ? Udah dulu ya guy`s. Tangan saya udah pegell neh. Mudah - mudaha dapat bermanfaat buat kalian semua. Amiiin.
Tulisan next nih sebenarnya adalah tulisan (alias saduran bebas) dari sebuah buku berjudul dengarlah suara hati karya Amru Khalid oleh Suherman dan Saya: Selamat Membaca!!!! Ada seorang pemuda yang lama belajar di negeri Paman Bush eh Sam (Amrik !) kembali ke tanah airnya. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk dicarikan seorang guru agama, ustadz atau siapapun yang bisa menjawab tiga pertanyaan nya. Akhirnya orang tua pemuda itu mencari dan mendapatkan orang yang dimaksud. Akhirnya orang tersebut dibawa oleh orang tua si pemuda tadi untuk dipertemukan dengan nya Kemudian terjadilah percakapan berikut : Pemuda : Anda siapa ? dan apakah bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan saya Ustadz : Saya hamba Allah dan dengan izin Nya Insya Allah saya akan menjawab pertanyaan anda Pemuda : Anda yakin ? banyak orang yang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya. Ustadz : Saya akan mencoba dengan seluruh kemampuan saya. Pemuda : Saya punya tiga pertanyaan : Pertama, kalau memang Tuhan itu ada tolong Tunjukan wujud Tuhan itu pada saya....Kedua,Apakah yang dinamakan Taqdir...Ketiga kalau syaithan diciptakan dari api kenapa dimasukkan kedalam neraka yang terbuat dari api juga, tentu tidak menyakitkan buat syaithan, sebab mereka memiliki unsur yang sama, apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu ? Tidak langsung menjawab malah Tiba – tiba sang ustadz menampar si Pemuda itu dengan sangat keras. Pemuda : (sambil menahan rasa sakit) kenapa anda marah kepada saya ? Ustadz : Saya tidak marah...tamparan itu adalah jawaban atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya ! Pemuda : saya sungguh tidak mengerti ?!!! Ustadz : Bagaimana rasa tamparan saya ? Pemuda : Tentu saja sakit !!! Ustadz : Jadi...anda percaya bahwa sakit itu ada ? Pemuda : Ya ! Si Pemuda menjawab ragu, lalu ustadz melanjutkan “Tunjukan kepada saya wujud sakit itu...???” Pemuda : Saya tidak bisa Ustadz : itulah jawaban yang pertama, kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujud Nya, Si Pemuda mulai mengerti sedikit – sedikit, ustadz itupun melanjutkan penjelasannya : “Apakah tadi malam anda bermimpi di tampar oleh saya ?” Pemuda : Tidak... Ustadz : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini ? Pemuda : Tidak Ustadz : Itulah yang dinamakan taqdir !!! Pemuda : ?!!!!?!!!! (terdiam) Ustadz : Tangan saya terbuat dari apa, yang barusan tadi saya gunakan untuk menampar pipi anda “kulit...!!!” jawab pemuda itu lemas, suaranya yang tadi tegas sudah hilang. Si Ustadz tak peduli dia melanjutkan : “ Terbuat dari apa pipi anda ?” Pemuda : Kuli...t!!! (matanya tertunduk dalam) Ustadz : bagaimana rasanya tamparan dari tangan saya pada pipi anda ? Pemuda : Saakiit ....(tentu yang lebih perih hatinya sekarang) “Nah itulah jawaban dari pertanyaan anda yang ketiga, walaupun setan terbuat dari api dan neraka juga terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka neraka pun akan menjadi tempat menyakitkan untuk Syaithan....” Ustadz itu berhenti menarik nafas buat melanjutkan namun sebenarnya tanpa dilanjutkan sebenarnya si pemuda telah mengerti bahwa ilmu yang dia kira mampu membelanya di hadapan banyak orang beragama ini ternyata hanya menambah jauhnya dari kebenaran yang dicarinya. Allahu Akbar.
Cahaya Wajah Mu Disadur dari Buku Muhammad; His Life Based on The Earliest Source Karangan Martin Ling`s Suatu ketika pada tahun Duka Cita, Ummu Hani` sepupu beliau anak dari pamannya Abi Thalib saudara dari Ja`far dan Ali; mengundang beliau untuk menginap di rumahnya. Beliau menerima tawarannya. Setelah tidur sejenak, beliau bangkit dan pergi ke Ka`bah, karena memang demikianlah kegemaran beliau sejak muda, mengunjungi Ka`bah diwaktu malam, bertemu sang Kekasih saat semua mata terlelap. Ketika beliau tiba disana, rasa kantuk menghampiri dan beliau pun tertidur di Hijr. “Ketika aku sedang tidur di Hijr” cerita beliau “Jibril datang kepadaku dan mengusikku dengan kakinya. Aku segera duduk tegap. Setelah kulihat tidak ada apa – apa, aku berbaring kembali. Ia datang kembali untuk kedua kalinya, dan tak terjadi apa – apa lalu aku kembali merebahkan diri. Ketiga kalinya ia datang lalu mengangkatku, aku lalu bangkit dan berdiri disampingnya. Jibril mengajakku menuju pintu masjid. Disana ada seekor binatang putih, seperti peranakan antara kuda dan keledai, dengan sayap disisi tempat menggerakkan kakinya. Langkahnya sejauh mata memandang” Nabi menceritakan bagaimana beliau menunggangi Buraq – demikian nama binatang itu- bersama malaikat yang menunjukkan jalan dan mengukur kecepatannya seperti mengunggang kuda yang menyenangkan. Mereka melaju keutara Yastrib dan Khaybar sampai tiba di Yerussalem. Kemudian mereka bertemu dengan para nabi – Ibrahim, Musa, Isa dan Nabi yang lain. Ketika beliau Shalat di tempat Ibadah ini, para Nabi itu menjadi Makmum dibelakangnya. Lalu Jibril datang membawa dua gelas yang dihidangkan pada beliau. Satu berisi Khamr dan satu nya lagi berisi Susu. Beliau mengambil gelas yang berisi susu dan meminumnya serta meninggalkan gelas yang berisi khamr. Jibril berkata “Engkau telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan memberi petunjuk kepada Ummat mu, Hai Muhammad, Khamr terlarang untukmu” Kemudian beliau diangkat keluar dari kehidupan ini menuju langit. Dari masjidil Aqsa beliau kembali menunggangi buraq. Yang menggerakkan sayapnya terbang keatas. Bersama malaikat –yang kini menampakkan wujud aslinya- beliau mi`raj; melampaui ruang, waktu dan bentuk lahiriah bumi, lalu melintasi tujuh langit. disana beliau bertemu lagi dengan para Nabi yang Shalat bersamanya di Yerussalem. Namun di Yerussalem mereka tampak seperti hidup dibumi. Sementara Nabi kini melihat mereka dalam wujud Ruhani sebagaimana mereka melihat beliau. Beliau kagum dengan perubahan mereka. Mengenai Yusuf, beliau berkomentar “Wajahnya laksana rembulan saat purnama. Ketampanannya tidak kurang dari setengah ketampanan yang ada saat ini”. Berikutnya beliau berkata tentang suasana kehidupan langit “Sekeping anak panah dari surga lebih baik dari segala yang ada di bawah matahari, dari tempat terbit dan tenggelamnya. Jika wanita surga tampak kepada penduduk bumi, maka ruang antara langit dan bumi akan dipenuhi cahaya dan keharumannya” Puncak Mi`raj adalah Sidratul Muntaha –begitulah yang disebut didalam Al Qur`an- pohon yang berakar pada Arsy` sebagai tanda puncak tertinggi pengetahuan setiap makhluk yang memiliki pengetahuan baik Rasul maupun Malaikat, sedang diatas Sidratul Muntaha itu adalah hanya Allah semata yang mengetahuinya, demikian kata Ulama Muhammad Ibnu Jarir At Thabari dalam Kitabnya Tarikh Ar Rusul wal Muluk. Pada puncak semesta Jibril tampak dihadapan beliau dengan segenap kemegahan malaikat nya, seperti saat pertama kali diciptakan. Kemudian dalam Bahasa Al Qur`an Surah An Najm ayat 16 sampai 18, Allah menceritakan :“(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” Menurut tafsir, Cahaya Ilahi Turun meliputi Sidratul Muntaha serta meliputi segala sesuatu disekelilingnya. Mata Nabi menatapnya tanpa berkedip dan tanpa berpaling darinya. Hal itu merupakan jawaban – atau salah satu jawaban- atas permohonan yang tersirat dalam ucapan beliau “Aku berilndung kepada Cahaya Keridhaan Mu” Di Sidhratul Muntaha, Nabi menerima perintah Shalat Wajib lima puluh kali dalam sehari semalam bagi ummatnya. Kemudian beliau menerima wahyu yang berisi ajaran pokok Islam “Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta`at". (Mereka berdo`a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".(QS. Al Baqarah : 285) Mereka kemudian turun melintasi tujuh lapis langit tempat mereka naik. Nabi bersabda “Saat aku kembali, ketika melewati Musa – dan betapa ia seorang yang baik terhadap kalian- ia bertanya kepadaku ‘berapa waktu shalat yang diwajibkan kepadamu ?’ Aku Jawab; ‘lima puluh kali sehari’ ia berkata ‘Kewajiban Shalat itu sangat berat, sedangkan ummatmu sangat lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah kepada Nya keringanan bagimu dan Ummat mu’ Maka aku kembali dan memohon keringanan kepada Allah, dan Dia menguranginya sepuluh’ lalu aku melewati Musa kembali dan ia mengulangi perkataan sebelumnya, maka aku kembali dan dikurangi lagi sepuluhnya. Namun setiap aku kembali ke Musa, ia menyuruhku kembali, sampai akhirnya perintah Shalat hanya lima kali sehari semalam. Kemudian aku kembali lagi ke Musa namun ia masih mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya. Aku berkata ‘Aku telah berulang kali menghadap Tuhanku, memohon kepada Nya sampai aku merasa malu. Aku tidak akan menghadap Nya lagi’ dan dengan demikian, bagi siapa yang mendirikan Shalat lima waktu dalam keimanan dan harapan akan rahmat Allah, ia akan diberi pahala sebanyak lima puluh kali Shalat” Setelah Nabi dan Malaikat turun ke Yerussalem, mereka kembali ke Mekkah dengan melewati banyak Kafilah yang se arah dengan mereka dari bani Quraisy. Ketika mereka tiba di Ka`Bah hari masih gelap dan Nabi kembali kerumah sepupunya. Ummu Hanii menuturkan “Menjelang Fajar Nabi membangunkan kami, setelah kami melaksanakan Shalat Shubuh, beliau berkata ‘Hai Ummu Hani! Aku berwaktu Isya` bersama kalian di lembah ini seperti yang engkau lihat. Lalu aku pergi ke Yerussalem dan Shalat disana. Kini aku Shalat Shubuh bersamamu’ beliau hendak beranjak pergi namun kupegang jubahnya erat – erat hingga terlepas dan perutnya terlihat, seolah hanya kain itu yang menutupi beliau. ‘Wahai Rasulullah’ kataku ‘Jangan ceritakan ini kepada Masyarakat, karena engkau akan dianggap berbohong. Mereka akan menghinakanmu’ ‘ Demi Allah aku akan menceritakannya kepada mereka’ kata beliau” Beliau pergi ke ka`bah dan menceritakan kepada mereka tentang perjalanannya ke Yerussalem. Musuh – musuhnya merasa menang, karena kini mereka memiliki alasan yang tidak dapat dibantah untuk menghinanya. Setiap orang Quraisy tahu bahwa perjalanan ke Daerah Syiria itu memerlukan waktu satu bulan pergi dan satu bulan kembali. Muhammad kini mengaku telah pergi kesana dan kembali dlaam waktu semalam. Namun ketika orang Quraisy memanas – manasi Abu Bakr bahwa Sahabatnya itu telah Gila, Abu Bakr malah menjawab : “Jika ia berkata demikian” kata Abu Bakr “itu benar. Dimana keganjilannya ? beliau mengatakan kepadaku bahwa berita – berita datang kepadanya dari langit kebumi dalam satu jam atau semalam. Aku tahu, beliau benar. Apa yang engkau permasalahkan itu sepele” Abu Bakr kemudian pergi ke Masjid untuk mengulangi pembenarannya; “Jika itu yang beliau katakan berarti itu benar”. Karena itu Nabi kemudian memberi nya gelar As Shiddiq “orang yang meyakini kebenaran”. Selain itu orang – orang yang memperolok Nabi pun kemudian mulai berfikir Ulang, sebab nabi menggambarkan beberapa kafilah Quraisy yang beliau lewati di perjalanan pulang. Beliau juga mengatakan dimana mereka kini berada dan kapan mereka diperkirakan akan tiba di Mekkah. Ternyata setiap kafilah datang tepat pada waktu yang disebutkan Nabi. Begitu pula tentang rincian Masjidil Aqsa yang beliau gambarkan lengkap dengan jumlah tiang dan pintunya. Kepada orang – orang itu nabi hanya menceritakan tentang perjalanan beliau ke Yerussalem, namun ketika beliau hanya bersama Abu Bakr dan Sahabat lainnya beliau menceritakan Mi`raj nya ke langit ketujuh – menceritakan sebagaian yang telah beliau lihat, yang selebihnya diceritakan ditahun – tahun kemudian, seringkali dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan serta Nikmat dan Ancaman.
Saudaraku, bergeraklah karena diam hanyalah bagi orang-orang yang mati. Seberapa hebatnya orang yang pintar jika hanya diam ditempat sedang orang lain tak mendapatkan apapun dari kepintarannya. Seberapa hebatnya orang yang kuat jika orang lain tak mendapatkan apapun dari kekuatan nya ? bergeraklah maka engkau akan memahami bahwa hanya orang yang bisa memberikan manfaat lah orang yang paling baik diantara kita. Engkau yang berdiam, segera carilah apa yang bisa engkau gerakkan dari teman-teman mu, carilah cara agar engkau terus bergerak menuju jalan Allah, jalan yang luas yang hanya ditempuh oleh orang-orang yang tak membiarkan dirinya diam disatu tempat saja. Saudaraku, hidup ini hanya sekali jangan jadikan ia ladang-ladang subur yang tak kau tanami bagi kehidupan yang maha hidup nanti. Maka mari bergerak, jangan berdiam dunia ini adalah ladang-ladang kita yang akan kita rasakan buahnya nanti disana. Inginkah engkau memasuki rumah mu nanti disurga dan ternyata disana engkau hanya termasuk didalam orang-orang yang patut dikasihani, karena tak menanam kebaikan yang banyak di dunia ini ? Sungguh dunia adalah impian seluruh penduduk surga dan neraka. Yang di neraka mereka ingin kembali kedunia walaupun sehari untuk melakukan amal ibadah yang mereka lupakan semasa hidup. Dan yang disurga demikian pula. Mereka ingin kembali untuk menambah apa yang telah mereka lakukan sebelumnya, karena mereka telah merasakan betapa nikmatnya balasan bagi amal-amal yang telah mereka lakukan. Seorang sahabat Anshar, Syahid disebuah peperangan bersama Rasul, malam nya anak nya bertemu sengan nya didalam mimpi. Lalu sang anak bertanya pada nya: “Wahai Ayah, bagaimanakah keadaanmu?” Lalu apa jawabnya :”seandainya aku diberi kehidupan sekali lagi maka aku akan bereperang dijalan Allah lagi dan berharap mati Syahid lagi, (karena kenikmatan surga bagi yang syahid di jalan Allah)” Jadi ingin kah engkau menjadi diantara orang yang menyesal saat nanti telah merasa kenikmatan disurga. Jadikan hidup yang sekali ini, penuh dengan gerak hingga saat engkau menghadapi kehidupan yang maha kekal nanti tiada penyesalan lagi di hati mu. Tuhan Ridha padamu, dan engkau pun Ridha pada kehendak Tuhan atas mu. Wallahualam. Allah maha mengetahui segala kemampuan kita, segala jalan yang akan dan telah kita tempuh Allah juga Maha Mengetahuinya. Namun mengapa do‘a kita tak juga terkabul? Mengapa kita masih saja diberi beban cobaan yang kita rasa sudah tak sanggup lagi untuk kita memikulnya? Mengapa Ya Allah? Jawabnya ternyataterpulang pada diri kita sendiri. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri ; Sudah maksimal kah usaha yang telah kita lakukan untuk mengubah keadaan kita ini? Sudahkah kita menghentikan dan menyesali (bertaubat) dari kesalahan yang menyebabkan kita menjadi seperti ini? Jika belum, maka bukan karena Allah beserta cobaannya tak peduli pada kita namun diri kita sendirilah yang tak peduli. Allah Swt. Telah berjanji tak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan diri kita. Allah Maha menepati janji Nya, dan sifat Nya tak mungkin yang sebalik itu. Nah, bila Allah kita rasa memberikan cobaan yang begitu dahsyatnya hingga kita rasa kita tak mampu untuk menanggung apa lagi menanggulangi nya, yakinlah Allah itu bukan karena Allahmelanggar janjinya tapi dalam rangka melatih diri kita untuk menimbulkan potensi lain yang selama ini tersembunyi dibalik diri kita. Dengan kemampuan itulah, Insya Allah kita menjadi manusia yang lebih baik dan jalan menuju terlepasnya diri kita dari cobaan Allah. Allah tak pernah meninggalkan kita. Ingat-ingat lah kembali rahmat Nya yang telah diberikan pada kita sebelum ini. Bila kita saat ini sakit, maka ingatlah betapa nikmatnya dulu ketika kita dalam keadaan sehat. Bila melarat saat ini maka ingatlah betapa rejeki Allah dulu datang dengan demikian mudahnya. Selalu ingat akan rejeki Allah akan membuat hati kita bersyukur, senantiasa merasa cukup. Ingat-ingatlah kembali kasih sayang Allah yang kita terima, bahkan hembusan nafas yang memungkinkan kita merasakan penderitaan inipun adalah anugrah dari Allah. Dan kemudian senantiasalah yakin, setiap Allah memberikan kesusahan bersamanya Allah menurunkan kemudahan atau jalan keluarnya. Namun mampukah kita mngungkap kemudahan dibalik kesukaran itu. Itulah yang dinamakan proses dari qadha mencapai Qadarnya Allah (kasyaf). Hal inilah yang menajdi tolok ukur sudah seberapa matangkah kita sebagai al Insaan dalam memanfaatkan segala potensi diri, sudah seberapa kenalkah kita akan diri kita sendiri ? Kematangan manusia dinilai dari bagaimana ia menanggulangi cobaan Allah dengan berusaha untuk keluar dari itu semua menuju perbaikan diri dan kondisi, lalu bagaimana pula dengan maksimalisasi rasa Syukur pada Allah atas hasil yang selama ini diperoleh nya, serta seberapan jauh keyakinan nya atas kekuasaan dan janji Allah. Jika ketiga syarat itu mampu terpenuhi, Insya Allah janji Allah amat dekat bagi orang beriman, akan datang pertolongan Allah dari arah yang tak kita duga sama sekali. Subhanallah wa Alhamdulillah wa laa ila ha Ila Allah. Allah u Akbar. Insya Allah. salam
| |