Cahaya Wajah Mu
Disadur dari Buku
Muhammad; His Life Based on The Earliest Source
Karangan Martin Ling`s
Suatu ketika pada tahun Duka Cita, Ummu Hani` sepupu beliau anak dari pamannya Abi Thalib saudara dari Ja`far dan Ali; mengundang beliau untuk menginap di rumahnya. Beliau menerima tawarannya. Setelah tidur sejenak, beliau bangkit dan pergi ke Ka`bah, karena memang demikianlah kegemaran beliau sejak muda, mengunjungi Ka`bah diwaktu malam, bertemu sang Kekasih saat semua mata terlelap. Ketika beliau tiba disana, rasa kantuk menghampiri dan beliau pun tertidur di Hijr. “Ketika aku sedang tidur di Hijr” cerita beliau “Jibril datang kepadaku dan mengusikku dengan kakinya. Aku segera duduk tegap. Setelah kulihat tidak ada apa – apa, aku berbaring kembali. Ia datang kembali untuk kedua kalinya, dan tak terjadi apa – apa lalu aku kembali merebahkan diri. Ketiga kalinya ia datang lalu mengangkatku, aku lalu bangkit dan berdiri disampingnya. Jibril mengajakku menuju pintu masjid. Disana ada seekor binatang putih, seperti peranakan antara kuda dan keledai, dengan sayap disisi tempat menggerakkan kakinya. Langkahnya sejauh mata memandang”
Nabi menceritakan bagaimana beliau menunggangi Buraq – demikian nama binatang itu- bersama malaikat yang menunjukkan jalan dan mengukur kecepatannya seperti mengunggang kuda yang menyenangkan. Mereka melaju keutara Yastrib dan Khaybar sampai tiba di Yerussalem. Kemudian mereka bertemu dengan para nabi – Ibrahim, Musa, Isa dan Nabi yang lain. Ketika beliau Shalat di tempat Ibadah ini, para Nabi itu menjadi Makmum dibelakangnya. Lalu Jibril datang membawa dua gelas yang dihidangkan pada beliau. Satu berisi Khamr dan satu nya lagi berisi Susu. Beliau mengambil gelas yang berisi susu dan meminumnya serta meninggalkan gelas yang berisi khamr. Jibril berkata “Engkau telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan memberi petunjuk kepada Ummat mu, Hai Muhammad, Khamr terlarang untukmu”
Kemudian beliau diangkat keluar dari kehidupan ini menuju langit. Dari masjidil Aqsa beliau kembali menunggangi buraq. Yang menggerakkan sayapnya terbang keatas. Bersama malaikat –yang kini menampakkan wujud aslinya- beliau mi`raj; melampaui ruang, waktu dan bentuk lahiriah bumi, lalu melintasi tujuh langit. disana beliau bertemu lagi dengan para Nabi yang Shalat bersamanya di Yerussalem. Namun di Yerussalem mereka tampak seperti hidup dibumi. Sementara Nabi kini melihat mereka dalam wujud Ruhani sebagaimana mereka melihat beliau. Beliau kagum dengan perubahan mereka. Mengenai Yusuf, beliau berkomentar “Wajahnya laksana rembulan saat purnama. Ketampanannya tidak kurang dari setengah ketampanan yang ada saat ini”.
Berikutnya beliau berkata tentang suasana kehidupan langit “Sekeping anak panah dari surga lebih baik dari segala yang ada di bawah matahari, dari tempat terbit dan tenggelamnya. Jika wanita surga tampak kepada penduduk bumi, maka ruang antara langit dan bumi akan dipenuhi cahaya dan keharumannya”
Puncak Mi`raj adalah Sidratul Muntaha –begitulah yang disebut didalam Al Qur`an- pohon yang berakar pada Arsy` sebagai tanda puncak tertinggi pengetahuan setiap makhluk yang memiliki pengetahuan baik Rasul maupun Malaikat, sedang diatas Sidratul Muntaha itu adalah hanya Allah semata yang mengetahuinya, demikian kata Ulama Muhammad Ibnu Jarir At Thabari dalam Kitabnya Tarikh Ar Rusul wal Muluk.
Pada puncak semesta Jibril tampak dihadapan beliau dengan segenap kemegahan malaikat nya, seperti saat pertama kali diciptakan. Kemudian dalam Bahasa Al Qur`an Surah An Najm ayat 16 sampai 18, Allah menceritakan :“(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” Menurut tafsir, Cahaya Ilahi Turun meliputi Sidratul Muntaha serta meliputi segala sesuatu disekelilingnya. Mata Nabi menatapnya tanpa berkedip dan tanpa berpaling darinya. Hal itu merupakan jawaban – atau salah satu jawaban- atas permohonan yang tersirat dalam ucapan beliau “Aku berilndung kepada Cahaya Keridhaan Mu”
Di Sidhratul Muntaha, Nabi menerima perintah Shalat Wajib lima puluh kali dalam sehari semalam bagi ummatnya. Kemudian beliau menerima wahyu yang berisi ajaran pokok Islam
“Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta`at". (Mereka berdo`a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".(QS. Al Baqarah : 285)
Mereka kemudian turun melintasi tujuh lapis langit tempat mereka naik. Nabi bersabda “Saat aku kembali, ketika melewati Musa – dan betapa ia seorang yang baik terhadap kalian- ia bertanya kepadaku ‘berapa waktu shalat yang diwajibkan kepadamu ?’ Aku Jawab; ‘lima puluh kali sehari’ ia berkata ‘Kewajiban Shalat itu sangat berat, sedangkan ummatmu sangat lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah kepada Nya keringanan bagimu dan Ummat mu’ Maka aku kembali dan memohon keringanan kepada Allah, dan Dia menguranginya sepuluh’ lalu aku melewati Musa kembali dan ia mengulangi perkataan sebelumnya, maka aku kembali dan dikurangi lagi sepuluhnya. Namun setiap aku kembali ke Musa, ia menyuruhku kembali, sampai akhirnya perintah Shalat hanya lima kali sehari semalam. Kemudian aku kembali lagi ke Musa namun ia masih mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya. Aku berkata ‘Aku telah berulang kali menghadap Tuhanku, memohon kepada Nya sampai aku merasa malu. Aku tidak akan menghadap Nya lagi’ dan dengan demikian, bagi siapa yang mendirikan Shalat lima waktu dalam keimanan dan harapan akan rahmat Allah, ia akan diberi pahala sebanyak lima puluh kali Shalat”
Setelah Nabi dan Malaikat turun ke Yerussalem, mereka kembali ke Mekkah dengan melewati banyak Kafilah yang se arah dengan mereka dari bani Quraisy. Ketika mereka tiba di Ka`Bah hari masih gelap dan Nabi kembali kerumah sepupunya. Ummu Hanii menuturkan “Menjelang Fajar Nabi membangunkan kami, setelah kami melaksanakan Shalat Shubuh, beliau berkata ‘Hai Ummu Hani! Aku berwaktu Isya` bersama kalian di lembah ini seperti yang engkau lihat. Lalu aku pergi ke Yerussalem dan Shalat disana. Kini aku Shalat Shubuh bersamamu’ beliau hendak beranjak pergi namun kupegang jubahnya erat – erat hingga terlepas dan perutnya terlihat, seolah hanya kain itu yang menutupi beliau. ‘Wahai Rasulullah’ kataku ‘Jangan ceritakan ini kepada Masyarakat, karena engkau akan dianggap berbohong. Mereka akan menghinakanmu’ ‘ Demi Allah aku akan menceritakannya kepada mereka’ kata beliau”
Beliau pergi ke ka`bah dan menceritakan kepada mereka tentang perjalanannya ke Yerussalem. Musuh – musuhnya merasa menang, karena kini mereka memiliki alasan yang tidak dapat dibantah untuk menghinanya. Setiap orang Quraisy tahu bahwa perjalanan ke Daerah Syiria itu memerlukan waktu satu bulan pergi dan satu bulan kembali. Muhammad kini mengaku telah pergi kesana dan kembali dlaam waktu semalam.
Namun ketika orang Quraisy memanas – manasi Abu Bakr bahwa Sahabatnya itu telah Gila, Abu Bakr malah menjawab :
“Jika ia berkata demikian” kata Abu Bakr “itu benar. Dimana keganjilannya ? beliau mengatakan kepadaku bahwa berita – berita datang kepadanya dari langit kebumi dalam satu jam atau semalam. Aku tahu, beliau benar. Apa yang engkau permasalahkan itu sepele” Abu Bakr kemudian pergi ke Masjid untuk mengulangi pembenarannya; “Jika itu yang beliau katakan berarti itu benar”. Karena itu Nabi kemudian memberi nya gelar As Shiddiq “orang yang meyakini kebenaran”. Selain itu orang – orang yang memperolok Nabi pun kemudian mulai berfikir Ulang, sebab nabi menggambarkan beberapa kafilah Quraisy yang beliau lewati di perjalanan pulang. Beliau juga mengatakan dimana mereka kini berada dan kapan mereka diperkirakan akan tiba di Mekkah. Ternyata setiap kafilah datang tepat pada waktu yang disebutkan Nabi. Begitu pula tentang rincian Masjidil Aqsa yang beliau gambarkan lengkap dengan jumlah tiang dan pintunya.
Kepada orang – orang itu nabi hanya menceritakan tentang perjalanan beliau ke Yerussalem, namun ketika beliau hanya bersama Abu Bakr dan Sahabat lainnya beliau menceritakan Mi`raj nya ke langit ketujuh – menceritakan sebagaian yang telah beliau lihat, yang selebihnya diceritakan ditahun – tahun kemudian, seringkali dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan serta Nikmat dan Ancaman.